Breaking News

Pages

Blogger news

Welcome to My Blog "Ladang Iptek Ican"... Semoga Bermanfaat!

Kamis, 12 Maret 2015

Perkembangan Agama Islam di Indonesia



Sejak dahulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah dan suka bergaul dengan bangsa lain. Oleh karena itu, banyak bangsa lain yang datang ke wilayah Nusantara untuk menjalin hubungan dagang. Ramainya perdagangan di Nusantara yang melibatkan para pedagang dari berbagai negara disebabkan melimpahnya hasil bumi dan letak Indonesia pada jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Pada sekitar abad ketujuh, Selat Malaka telah dilalui oleh pedagang Islam dari India, Persia, dan Arab dalam pelayarannya menuju negara-negara di Asia Tenggara dan Cina. Melalui hubungan perdagangan tersebut, agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia. Pada abad kesembilan, orang-orang Islam mulai bergerak mendirikan perkampungan Islam di Kedah (Malaka), Aceh, dan Palembang.
Ilustrasi
Waktu kedatangan Islam di Indonesia masih ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli menyatakan bahwa agama Islam itu masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 Masehi. Pendapat itu didasarkan pada berita dari Cina zaman Dinasti T’ang yang menyebutkan adanya orang-orang Ta Shih (Arab dan Persia) yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Ho Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674).
Sebagian ahli yang lain menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia baru abad ke-13. Pernyataan ini didasarkan pada masa runtuhnya Dinasti Abbassiah di Bagdad (1258). Hal itu juga didasarkan pada berita dari Marco Polo (1292), berita dari Ibnu Batuttah (abad ke-14), dan Nisan Kubur Sultan Malik al Saleh (1297) di Samudera Pasai. Pendapat itu diperkuat dengan masa penyebaran ajaran tasawuf. Sebenarnya kita perlu memisahkan pengertian proses masuk dengan berkembangnya agama Islam di Indonesia, seperti berikut:
1. masa kedatangan Islam (kemungkinan sudah terjadi sejak abad ke-7 sampai
dengan abad ke-8 Masehi);
2. masa penyebaran Islam (mulai abad ke-13 sampai dengan abad ke-16
Masehi, Islam menyebar ke berbagai penjuru pulau di Nusantara);
3. masa perkembangan Islam (mulai abad ke-15 Masehi dan seterusnya melalui
kerajaan-kerajaan Islam).
Terdapat berbagai pendapat pula mengenai negeri asal pembawa agama serta kebudayaan Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kebudayaan dan agama Islam datang dari Arab, Persia, dan India (Gujarat dan Benggala). Akan tetapi, para ahli menitikberatkan bahwa golongan pembawa Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat (India Barat). Hal itu diperkuat dengan bukti-bukti sejarah berupa nisan makam, tata kehidupan masyarakat, dan budaya Islam di Indonesia yang banyak memiliki persamaan dengan Islam di Gujarat.
Pembawanya adalah para pedagang, mubalig, dan golongan ahli tasawuf. Ketika Islam masuk melalui jalur perdagangan, pusat-pusat perdagangan dan pelayaran di sepanjang pantai dikuasai oleh raja-raja daerah, para bangsawan, dan penguasa lainnya, misalnya raja atau adipati Aceh, Johor, Jambi, Surabaya, dan Gresik. Mereka berkuasa mengatur lalu lintas perdagangan dan menentukan harga barang yang diperdagangkan. Mereka itu yang mula-mula melakukan hubungan dagang dengan para pedagang muslim. Lebih-lebih setelah suasana politik di pusat Kerajaan Majapahit mengalami kekacauan, raja-raja daerah dan para adipati di pesisir ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Oleh karena itu, hubungan dan kerja sama dengan pedagang-pedagang muslim makin erat. Dalam suasana demikian, banyak raja daerah dan adipati pesisir yang masuk Islam. Hal itu ditambah dengan dukungan dari pedagang-pedagang Islam sehingga mampu melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Setelah raja-raja daerah, adipati pesisir, para bangsawan, dan penguasa pelabuhan masuk Islam rakyat di daerah itu pun masuk Islam, contohnya Demak (abad ke-15), Ternate (abad ke-15), Gowa (abad ke-16), dan Banjar (abad ke-16).
Proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia berlangsung secara bertahap dan dilakukan secara damai sehingga tidak menimbulkan ketegangan sosial. Cara penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia melalui berbagai saluran berikut ini.
1. Saluran Perdagangan
Saluran yang digunakan dalam proses islamisasi di Indonesia pada awalnya melalui perdagangan. Hal itu sesuai dengan perkembangan lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia yang ramai mulai abad ke-7 sampai dengan abad ke- 16, antara Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Cina.
Proses islamisasi melalui saluran perdagangan ini dipercepat oleh situasi politik beberapa kerajaan Hindu pada saat itu, yaitu adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat di Majapahit. Pedagang-pedagang muslim itu banyak menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan muslim. Salah satu contohnya adalah Pekojan.
2. Saluran Perkawinan
Kedudukan ekonomi dan sosial para pedagang yang sudah menetap makin baik. Para pedagang itu menjadi kaya dan terhormat, tetapi keluarganya tidak dibawa serta. Para pedagang itu kemudian menikahi gadis-gadis setempat dengan syarat mereka harus masuk Islam. Cara itu pun tidak mengalami kesulitan. Saluran islamisasi lewat perkawinan ini lebih menguntungkan lagi apabila para saudagar atau ulama Islam berhasil menikah dengan anak raja atau adipati. Kalau raja atau adipati sudah masuk Islam, rakyatnya pun akan mudah diajak masuk Islam.
Misalnya, perkawinan Maulana Iskhak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan Sunan Giri; perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ngampel) dengan Nyai Gede Manila, putri Tumenggung Wilatikta; perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon; perkawinan putri Adipati Tuban (R.A. Teja) dengan Syekh Ngabdurahman (muslim Arab) yang melahirkan Syekh Jali (Jaleluddin).
3. Saluran Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistik dan hal-hal magis. Oleh karena itu, para ahli tasawuf biasanya mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan menyembuhkan. Kedatangan ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-13, yaitu masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India yang sudah beragama Islam.
Bersamaan dengan perkembangan tasawuf, para ulama dalam mengajarkan agama Islam di Indonesia menyesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi pada agama Hindu dan Buddha sehingga mudah dimengerti. Itulah sebabnya, orang Jawa begitu mudah menerima agama Islam. Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal, antara lain Hamzah Fansyuri, Syamsuddin as Sumatrani, Nur al Din al Raniri, Abdul al Rauf, Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.
4. Saluran Pendidikan
Lembaga pendidikan Islam yang paling tua adalah pesantren. Murid-muridnya (santri) tinggal di dalam pondok atau asrama dalam jangka waktu tertentu menurut tingkatan kelasnya. Pengajarnya adalah para guru agama (kiai atau ulama). Para santri itu jika sudah tamat belajar, pulang ke daerah asal dan mempunyai kewajiban mengajarkan kembali ilmunya kepada masyarakat di sekitar. Dengan cara itu, Islam terus berkembang memasuki daerah-daerah terpencil.
Pesantren yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, antara lain Pesantren Sunan Ampel di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Pesantren Sunan Giri yang santrinya banyak berasal dari Maluku (daerah Hitu). Raja-raja dan keluarganya serta kaum bangsawan biasanya mendatangkan kiai atau ulama untuk menjadi guru dan penasihat agama. Misalnya, Kiai Ageng Selo adalah guru Jaka Tingkir; Kiai Dukuh adalah guru Maulana Yusuf di Banten; Maulana Yusuf adalah penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Saluran Seni Budaya
Berkembangnya agama Islam dapat melalui seni budaya, misalnya seni bangunan (masjid), seni pahat (ukir), seni tari, seni musik, dan seni sastra. Seni bangunan masjid, mimbar, dan ukir-ukirannya masih menunjukkan seni tradisional bermotifkan budaya Indonesia–Hindu, seperti yang terdapat pada candi-candi Hindu atau Buddha. Hal itu dapat dijumpai di Masjid Agung Demak, Masjid Sendang Duwur Tuban, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ternate. Pintu gerbang pada kerajaan Islam atau makam orang-orang yang dianggap keramat menunjukkan bentuk candi bentar dan kori agung. Begitu pula, nisan-nisan  makam kuno di Demak, Kudus, Cirebon, Tuban, dan Madura menunjukkan budaya sebelum Islam. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang telah ada, tetapi justru ikut memeliharanya. Seni budaya yang tetap dipelihara dalam rangka proses islamisasi itu banyak sekali, antara lain perayaan Garebek Maulud (Sekaten) di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon.
Islamisasi juga dilakukan melalui pertunjukkan wayang yang telah dipoles dengan unsur-unsur Islam. Menurut cerita, Sunan Kalijaga juga pandai memainkan wayang. Islamisasi melalui sastra ditempuh dengan cara menyadur buku-buku tasawuf, hikayat, dan babad ke dalam bahasa pergaulan (Melayu).
6. Saluran Dakwah
Gerakan penyebaran Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dengan peranan Wali Songo. Istilah wali adalah sebutan bagi orang-orang yang sudah mencapai tingkat pengetahuan dan penghayatan agama Islam yang sangat dalam dan sanggup berjuang untuk kepentingan agama tersebut. Oleh karena itu, para wali menjadi sangat dekat dengan Allah sehingga mendapat gelar Waliullah (orang yang sangat dikasihi Allah). Sesuai dengan zamannya, wali-wali itu juga memiliki kekuatan magis karena sebagian wali juga merupakan ahli tasawuf. 


  1. Teori Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu:
-       Teori Gujarat,
-       Teori Makkah dan
-       Teori Persia.

Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian materi berikut ini;


  • Teori Gujarat

Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur Tengah – Eropa.
Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.­
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

Teori Makkah

Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
­
3. Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:
Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan  Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah / Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda bunyi Harakat.
Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren  adalah nama salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

       2. Beberapa Pendapat  lain Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
A. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah  catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan alaya antara tahun 606-699 M.
Prof. Sayed Naguib Al -Attas (Malaysia) dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia
mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah
masuk ke Malaya.
Prof. S. Muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay
berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya
Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya penduduk Arab muslim berkunjung ke
Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The
Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).

B. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).

C. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya
kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met
Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan
Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa
kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

      3. Pembawa Islam ke Indonesia
Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan China.
Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya nadil melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia.
Gujarat (India)

Pedagang islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
- ukiran batu nisan gaya Gujarat.
- Adat istiadat dan budaya India islam.
Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
- Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
- Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
- Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).

      4.      Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain:
Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
Munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.

     5.     China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho) mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar  lain:
- Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
- Beberapa makam China muslim.
-Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.
-Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh toleransi (Umar kayam:1989)
Perdagangan dan Perkawinan
Dengan menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam berkembang (masyarakat Islam).
Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).

    3. Kerajaan-kerajaan Islam pertama di Sumatera
            3.1 Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh,kerajaan Samudra Pasai disebut sebagai kerajaan Islam pada awal atau pertengahan abad ke-13 M yang didirikan oleh sultan Al-Malikush Shalih (1261-1289 M). Kemunculan kerajaan Samudra Pasai ialah hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan seterusnya. Bukti berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 M didukung adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudra Pasai. Dari nisan tersebut dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.
Pendiri kerajan Samudra Pasai ialah sultan Al-Malikush Shalih,yang sekaligus sebagai raja pertama. Hal ini dapat diketahui melalui tradisi  Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat melayu, dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan sarjana-sarjana barat, khususnya para sarjana Belanda, seperti Hurgronye, J.P Molquette, J.L moens, J.Hushoff, G.P Rouffaer, H.K.J Cowan, dan lain-lain.
Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja ialah Maurah Selu  yang masih keturunan dari raja perlak. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah, yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh. Maurah Selu adalah putra Merah Gajah. Nama Maurah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara. Selu kemungkinaan berasal dari kata Sungkala yang aslinya berasal dari Sanskrit Chula. Kepemimpiannya yang menonjol menempatkan dirinya sebagai raja.
Dari hikayat tersebut dapat diketahui bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah muara sungai peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai. Ada dua kota yang terletak berseberangan di muara sungai peusangan itu, Pasai dan Samudra. Kota Samudra terletak agak lebih pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih ke muara.
Pendapat yang menyatakan bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, ia seorang pengembara muslim yang terkenal asal Marokko, yang pada pertengahan abad ke-14 M (746H/1345M) mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalannya dari Delhi ke Cina. Ketika itu Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al-Zahir pada tahun 1345 M, putra dari Sultan  Malik Al-Saleh. Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M, kerajaan kecil Sa-mu-ta-la (Samudra) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman. Ibn Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir satu abad lmanya disiarkan disana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyatnya, mengikuti mazhab syafi’i. Berdasarkan beritanya, kerjaan Samudra Pasai pada waktu itu merupakan pusat studi agama dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. 
Mengenai politik dan perekonomian di kerajaan Samudra Pasai. Dari segi politik ,munculnya kerajaan Samudra Pasai  pada abad ke-13 M tu sejalan dengan suramnya memegang peranan maritim kerajaan sriwijaya, yang sebelumnya memegnag peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya. Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan  terhadap perdagangan dan pelayaran itu merupakan sendi-sendi kekuasaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar.
Adapun raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Samudra Pasai adalah sebagai berikut:
1.      Sultan Malik Azh-Zhahir (1297-1326 M)
2.      Sultan Mahmud Malik Azh-Zhahir (1326-1345 M)
3.      Sultan Manshur Malik Azh-Zhahir (1345-1346 M)
4.      Sultan Ahmad Malik Azh-Zhahir (1346-1383 M)
5.      Sultan Zainal Abidin Malik Azh-Zhahir (1383-1405 M)
6.      Sultan Nahrasiyah (1405 M)
7.      Sultan Abu Zaid Malik Azh-Zhahir (1455 M)
8.      Sultan Mahmud Malik Azh-Zhahir (1455-1477 M)
9.      Sultan Zainal Abidin (1477-1500 M)
10.  Sultan Abdullah Malik Azh-Zhahir (1500-1513 M)
11.  Sultan Zainal Abidin (1513-1524 M)
Kerajaan Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada tahun 1521 M, kerajaan ini ditaklukan oleh portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 M dianeksasi oleh raja Aceh, yaitu Ali Mughayatsyah. Selanjutnya, kerajaan Samudra Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.
3.2        Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar. Menurut pendapat Anas Machmud, kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di atas puing-puing kerjaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam. Menurutnya, pada masa pemerintahannya Aceh Darussalam mulai mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan, karena saudagar-saudagar Muslim sebelumnya  berdagang dengan Malaka  memindahkan kegiatan mereka ke Aceh, setelah Malaka dikuasai portugis (1511 M). Sebagai akibat penaklukkan Malaka oleh Portugis itu, jalan dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalui selat Karimata terus ke Malaka, pindah melalui selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatera, terus ke Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri.
            Menurut H.J de Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian wilayah Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14 M. Menurutnya, kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat bahwa rajanya yang pertama adalah Ali Mughayat Syah.
            Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah pidie yang bekerjasama dengan portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya terhadap dua kerajaan tersebut , Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya ke sumatera timur. Untuk mengatur daerah bsumatera timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya,salah seorang di antaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli dan serdang.
Peletak dasar kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Qahar. Dalam menghadapi tentara portugis, ia menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain di indonesia. Aceh dapat mendirikan angkatan perang yang baik berkat bantuan dari Turki Usmani, Aceh ketika itu tampaknya mengakui kerajaan Turki Usmani sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dan kekhalifahan dalam Islam.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncaknya pada masa Sultan Iskandar Muda (1608-1637 M). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan pesisir timur dan barat sumatera. Ia memerintah dengan keras dalam menentang penjajahan portugis. Setelah itu, kedudukannya digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani yang memerintah lebih liberal. Pada masa Sultan Iskandar Tsani perkembangan ilmu pengetahuan Islam mengalami masa keemasannya. Akan tetapi, setelah ia meninggal, semua penguasaannya dari kalangan perempuan (1641-1699 M), yaitu Sultanah Shafiyatuddin Syah, Zakiyahtuddin Syah, dan Naqiyahtuddin Syah sehingga kekuasaan mengalami kelemahan, yang ada pada akhirnya pada abad ke-18 kebesarannya menurun.
Pada masa kerajaan ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin maju. Pada masa ini muncul tokoh-tokoh ulama seperti:
1.      Syaikh Abdullah Arif (dari Arab)
2.      Hamzah Al-Fanshuri (Tokoh Tasawuf)
3.      Syamsuddin As-Sumatrani (1630 M) , dan
4.      Abdurrauf Singkel (1693 M).

    4. kerajaan-kerajaan Islam di jawa          
                      4.1 Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan atas prakasa para walisongo. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta. Walisongo bersepakat mengangkat Raden Fatah sebagai raja pertama kerajaan demak. Ia mendapat gelar Senopati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Panataagama. Raden Fatah dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalam berbagai permasalahan agama dibantu oleh para wali. Sebelumnya,Demakyang masih bernama Bintoronmerupakan daerah vassal (kekuasaan) Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden Fatah. Daerah ini semakin lama semakin berkembang menjadi daerah yang ramai dan pusat perkembangan agana Islam yang diselenggarakan oleh para wali.
      Masa kekuasaan pemerintahan Raden Fatah berlangsung kira-kira akhir abad ke-15 M hingga awal abad ke-16 M. Disebutkan bahwa Raden Fatah adalah anak seorang Raja Majapahit dari seorang Ibu muslim keturunan Campa. Raden Fatah merupakan raja pertama Demak yang sngat berjasa dalam pengenmbangan agama Islam di daerah wilayah kekuasaannya. Ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Pati Unus (Adipati Yunus) yang terkenal dengan sebutan pangeran Sabrang Lor. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507 M. Menurutnya, tidak lama setelah  naik tahta, ia merencanakan sesuatu serangan terhadap Malaka. Semangat perangnya semakin memuncak ketika Malaka ditaklukkan oleh portugis pada tahun 1511 M. Akan tetapi, sekitar pergantian tahun 1512-1513 M, tentaranya mengalami kekalahan besar.
      Sepeninggal Pati Unus, digantikan oleh Sultan Trenggono yang dilantik oleh Sunan Gunungjati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Sultan Trenggono memerintah tahun 1524-1546 M. Pada masa Sultan Demak ketiga inilah Islam dikembangkan ke seluruh tanah jawa, bahkan sampai kalimantan selatan. Penaklukkan sunda kelapa berakhir pada tahun 1527 M yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 M itu juga. Selanjutnya, pada tahun 1527 M, Demak berhasil menundukkan Madiun, Blora (1530 M), Surabaya (1531 M), Pasuruan (1535 M), dan antara tahun 1541-1542 M Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri (1544 M). Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah jawa Tengah bagian selatan sekitar Gunung Merapi ; Pengging, dan Pajang berhasil dikuasai berkat pemuka Islam, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Tembayat.
Pada tahun 1546 M, dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultan Trenggono terbunuh. Ia digantikan oleh adiknya prawoto. Masa pemerintahannya tidak  langsung lama karena, terjadi pemberontakan oleh adipati-adipati sekitar kerajaan Demak. Sunan Prawoto sendiri kemudian dibunuh oleh Aria penangsang dari Jipang pada tahun 1549 M. Dengan demikian, kerajaan Demak berakhir dan dilanjutkan oleh kerajaan Pajang di bawah Jaka Tingkir yang berhasil membunuh Aria Penangsang.
      Adapun para Sultan Kerajaan Demak adalah
1.      Raden Fatah (Sultan Fatah) (1478-1518 M)
2.      Adipati Yunus (1518-1521 M)
3.      Sultan Trenggono (1521-1546 M)
4.      Sunan Prawoto (1546-1546 M)


             4.2 Kerajaan Pajang
Kerajaan Islam Pajang merupakan kelanjutan dari kerajaan Islam Demak. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau jawa , usia kerajaan ini tidak panjang. Kekuasaan dan kebesarannya kemudian diambil alih oleh kerajaan mataram.
Raja pertama kerajaan Pajang  ialah Jaka Tinggir yang berasal dari pengging, di lereng gunung merapi. Oleh raja Demak ketika, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir  di angkat sebagai penguasa Pajang , setelah sebelumnya dinikahkan dengan anak perempuannya. Kediaman penguasaa Pajang itu, menurut babad, dibangun dengan mencontoh kraton Demak.
Pada tahun 1546 M, Sultan Demak meninggal dunia. Setelah itu muncul kekacuan di ibu kota. Konon, Jaka Tinggkir yang telah menjadi penguasa Pajang tiu dengan segera mengambil alih kekuasaan, karena anak sulung Sultan Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultan , susuhunan  Prawoto      dibunuh oelh kemenakannya, Aria penangsang yang waktu  itu menjadi penguasa di Jipang (Bojonegoro sekarang). Setelah itu, ia memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan  ke Pajang. Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di pulau jawa, ia bergelar Sultan Adiwijaya. Pada masanya sejarah Islam di jawa mulai dalam bentuk baru, titik  politik  pindah dari pesisir (Demak) ke pedalaman. Peralihan pusat politik itu membawa akibat yang sangat besar dalam perkembangan peradapan Islam di jawa.
Pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya, ia berusaha memperluas wilayah kekuasaannya ke pedalaman ke arah timur sampai ke madiun. Setelah itu ia menaklukkan Blora pada tahun 1554 M, dan kediri pada tahun 1577 M. Pada tahun  1587 M ia mendapat pengakuan dari para raja di jawa sebagai raja Islam. Pada masa pemerintahannya kesusastraan dan kesenian keraton yang sudah maju di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman jawa. Demikian pula juga pengaruh Islam semakin kuat di pedalaman jawa
Sepeninggal Sultan Hadiwijaya pada tahun 1587 M kedudukan nya digantikan oleh menantunya, Aria Pangiri, anak susuhan Prawoto. Waktu itu, Aria Pangiri menjadi penguasa di Demak. Setelah menetap di kraton Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat  yang dibawahnya dari Demak. Sementara itu, anak Sultan Adiwijaya, Pangeran Benawa, dijadikan penguasa Jipang. Pangeran muda ini, karena tidak puas dengan nasibnya di tengah-tengah lingkunga yang masih asing baginya, meminta bantuan kepada senopati, penguasa Mataram, untuk mengusir raja Pajang yang baru itu. Pada tahun 1588 M, usahanya itu berhasil. Sebagai rasa terima kasih, Pangeran Benawa menyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada Senopati. Akan tetapi, Senopati menyatakan keinginnya untuk tetap tinggal di Mataramia hanya meminta “pusaka kerajaan” Pajang. Mataram ketika itu memang sedang dalam proses menjadi sebuah kerajaan yang besar. Pangeran Benawa kemudian dikukuhkan sebagai raja Pajang, akan tetapi berada di bawah perlindungan kerajaan Mataram. Sejak itu, Pajang sepenuhnya menjadi berada di bawah kekuasaan Mataram.
Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618 M . kerajaan Pajang waktu itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung. Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.                                                                                                                                         
4.3 Kerajaan Cirebon         
            Kerajaan Islam Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di daerah Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleg Sunan GunungJjati. Beliau lahir pada tahun 1448 M dan wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120  tahun. Karena  kedudukannya sebagai Walisongo, ia mendapat penghormatan dari raja-raja di Jawa seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam yang merdeka dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan Pajajaran yang masih belum menganut ajaran Islam.
            Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati (Syarif  Hidayat)  mengembangkan Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dasar dari pengembangan Islam dan Perdagangan kaum Muslimin di Banten di letakkan oleh Sunan Gunung Jati tahun 1524/1525 M. Ketika ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya, Sultan Hasanuddin. Beliaulah yang menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten tersebut akhirnya kerajaan Pajajaran dikalahkan.
            Pada tahun 1527 M, dilakukan penyerangan  ke Sunda Kelapa atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Penyerangan ini dipimpin oleh Falatehan dengan bantuan tentara Demak. Setelah Gunung Jati wafat, kemudian ia diganti oleh cicitnya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu/ Panembahan Ratu. Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya.
            Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada Pangeran Girilaya. Sepeninggalnya yaitu sesuai kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Marta wijaya ( Panembahan Sepuh) yang memerintah Kesultanan Kesepuhan dengan gelar Syamsudin, dan Karta Wijaya ( Panembahan Anom) yang memerintah Kasultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.
4.4  Kerajaan Banten
            Kerajaan Islam Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Setelah Sunan Gunung Jati menaklukan Banten pada tahun 1525 M, ia kembali ke Cirebon, dan kekuasaannya diserahkan kepada anaknya yaitu Sultan Hasanudin. Beliau kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah Islam, yaitu ke Lampung dan daerah sekitarnya di Sumatera Selatan, setelah sebelumnya tahun 1527 menaklukan Sunda Kelapa.
            Pada tahun 1568, di saat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanudin memerdekakan Banten. Oleh karena itu ia dianggap sebagai raja Islam yang pertama di Banten. Banten sejak semula merupakan vassal dari Demak. Hasanudin mangkat kira-kira tahun 1570 dan diganti oleh anaknya, Yusuf. Setelah Sembilan tahun memegang tampuk kekuasaan, tahun 1579, Yusuf menaklukan Pakuwan yang belum Islam yang waktu itu masih menguasai sebagian besar daerah pedalaman  Jawa Barat. Sesudah ibu kota kerajaan itu jatuh dan raja beserta keluarganya menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk Islam. Mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.
            Setelah Pangeran Yusuf meninggal pada tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya, yaitu Maualana Muhammad yang masih muda. Beliau bergelar Kanjeng Ratu Banten. Selama itu kekuasaan dipegang oleh Qadhi (jaksa agung) bersama empat pembesar istana lainnya. Maulana Muhammad meninggal pada tahun 1596 M dalam usia 25 tahun. Setelah itu kedudukannya digantikan oleh anaknya yang masih kecil bernama Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir. Ia memerintah secara resmi pada tahun 1638 M.
Sepeninggal Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir pada tahun 1651, kemudian ia digantikan oleh cucunya Sultan Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1659 M). Pada masa pemerintahannya ini terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dengan VOC karena beliau anti Belanda. Sikap-nya yang anti Belanda itu mendapat dukungan  dari seorang alim, yaitu Syaikh Yusuf yang berasal dari Makasar. Peperangan itu baru berakhir dengan perdamaian pada tahun 1659 M. Sikap anti Belanda ini tidak disetujui oleh anaknya, yaitu Abdul Kahar yang bergelar Sultan Haji yang lebih suka bekerja sama dengan Belanda.

5.  Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku

                  5.1 Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan

Kesultanan Banjar merupakan kesultanan Islam yang terletak di Kalimantan bagian Selatan. Kesultanan ini pada awalnya bernama Daha, sebuah kerajaan Hindu yang berubah menjadi kesultanan Islam. Kesultanan Banjar berdiri pada tahun 1595 dengan penguasa pertama sultan Suriansyah.Islam masuk ke wilayah ini pada tahun 1470, bersama dengan melemahnya Kerajaan Majapahit di pulau Jawa.

Kerajaan Banjar dipimpin oleh Pangeran Samudra berperang dengan kerajaan Daha. Kemudian raja Samudra meminta bantuan ke Demak dengan janji jika menang maka raja dan penduduknya akan masuk Islam. Maka berangkatlah tentar Demak menyerbu kerajaan Daha. Dlam peperangan itu, Kerajaan Banjar yang dibantu Demak menang. Sejak saat itu Pangeran Samudra masuk Islam, dan kerajaan Banjar dinyatakan sebagai kerajaan Islam pada tahun 1550 M.
Penyebaran Islam secara luas dilakukan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama yang menjadi mufti besar Kalimantan. Kesultanan Banjar mengalami kemunduran dengan terjadinya pergolakan masyarakat yang menentang pengangkatan Pangeran Tamjidillah (1857 – 1859 M) sebagai sultan oleh Belanda. Pada 1859 – 1905 M, terjadi perang Banjar yang dipimpin oleh pangeran Antasari (1809 – 1862 M) melawan Belanda. Akibat perang ini Belanda menghapuskan Kesultanan Banjar pada tahun 1860 M. peninggalan sejarah kesultanan Banjar dapat dilihat dari bangunan masjid di Desa Kuin Banjar Barat (Banjarmasin) yang dibangun pada masa pemerintahan sultan Tamjidillah.
Para Sultan yang memerintah kerajaan Banjar antara lain: Sultan Adam (1825-1857 M), Pangeran Tamjidillah (1857 – 1859 M) yang memihak Beland, Pangeran hidayat dan Pangeran Antasari yang berperang melawan Belanda pada ahun 1862 – 1863 M.

5.2 Kerajaan Gowa – Tallo (MAKASSAR)
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Rebandang dari Sumatera, sehingga pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan raja Makasar pun memeluk agama Islam. Raja Makasar yang pertama memeluk agama Islam adalah Karaeng Matoaya (Raja Gowa) yang bergelar Sultan Alaudin yang memerintah Makasar tahun 1593 – 1639 dan dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) sebagai Mangkubumi bergelar Sultan Abdullah. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Malekul Said (1639 – 1653).
Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa Pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669). Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat. Dengan adanya daerah kekuasaan Makasar yang luas tersebut, maka seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya.
Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah Maluku. Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur.
Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makasar meminta bantuan kepada VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makasar. Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikankerajaan Makasar.
Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau             di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannyasecara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.
Seperti yang telah Anda ketahui bahwa kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak yang strategis, memiliki pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur. Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makasar. Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, sehingga dengan adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat. Selain perdagangan, Makasar juga mengembangkan kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerah-daerah yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.
 Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun masyarakat Makasar memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut.
Di samping norma tersebut, masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”. Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.
5.3 Kerajaan Ternate – Tidore (MALUKU)
Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepualuan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagang-pedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur.
Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agama Islam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal yaitu Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku. Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari sekian banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.
    Kepulauan Maluku terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Rempah-rempah tersebut menjadi komoditi utama dalam dunia pelayaran dan perdagangan pada abad 15 – 17. Demi kepentingan penguasaan perdagangan rempah-rempah tersebut, maka mendorong terbentuknya persekutuan daerah-daerah di Maluku Utara yang disebut dengan Ulilima dan Ulisiwa. Ulilima berarti persekutuan lima bersaudara yang dipimpin oleh Ternate yang terdiri dari Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon. Sedangkan Ulisiwa adalah persekutuan Sembilan bersaudara yang terdiri dari Tidore, Makayan, Jailolo dan pulau-pulau yang terletak di kepulauan Halmahera sampai Irian Barat.  Antara persekutuan Ulilima dan Ulisiwa tersebut terjadi persaingan. Persaingan tersebut semakin nyata setelah datangnya bangsa Barat ke Kepulauan Maluku. Bangsa barat yang pertama kali datang adalah Portugis yang akhirnya bersekutu dengan Ternate tahun 1512. Karena persekutuan tersebut maka Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Ternate. Bangsa Barat selanjutnya yang datang ke Maluku adalah bangsa Spanyol, sedangkan Spanyol sendiri bermusuhan dengan Portugis. Karena itu kehadiran Spanyol di Maluku, maka ia bersekutu dengwn Tidore.
Akibat persekutuan tersebut maka persaingan antara Ternate dengan Tidore semakin tajam, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan antara keduanya yang melibatkan Spanyol dan Portugis. Dalam peperangan tersebut Tidore dapat dikalahkan oleh Ternate yang dibantu oleh Portugis. Keterlibatan Spanyol dan Portugis pada perang antara Ternate dan Tidore, pada dasarnya bermula dari persaingan untuk mencari pusat rempah-rempah dunia sejak awal penjelajahan Samudra, sehingga sebagai akibatnya Paus turun tangan untuk membantu menyelesaikan pertikaian tersebut. Usaha yang dilakukan Paus untuk menyelesaikan pertikaian antara Spanyol dan Portugis adalah dengan mengeluarkan dekrit yang berjudul Inter caetera Devinae, yang berarti Keputusan Illahi. Dekrit tersebut ditandatangani pertama kali tahun 1494 di Thordessilas atau lebih dikenal dengan Perjanjian Thordessilas. Dan selanjutnya setelah adanya persoalan di Maluku maka kembali Paus mengeluarkan dekrit yang kedua yang ditandatangani oleh Portugis dan Spanyol di Saragosa tahun 1528 atau disebut dengan Perjanjian Saragosa.

Perjanjian Thordessilas merupakan suatu dekrit yang menetapkan pada peta sebuah garis perbatasan dunia yang disebut Garis Thordessilas yang membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verdi di sebelah Barat benua Afrika. Wilayah di sebelah Barat Garis Thordessilas ditetapkan sebagai wilayah Spanyol dan di sebelah Timur sebagai wilayah Portugis.Sedangkan Perjanjian Saragosa juga menetapkan sebuah garis baru sebagai garis batas antara kekuasaan Spanyol dengan kekuasaan Portugis yang disebut dengan Garis Saragosa. Di mana garis tersebut membagi dunia menjadi 2 bagian yaitu Utara dan Selatan. Bagian Utara garis Saragosa merupakan kekuasaan Spanyol dan bagian Selatannya adalah wilayah kekuasaan Portugis. Dengan adanya perjanjian Saragosa tersebut, maka sebagai hasilnya Portugis tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan perhatiannya di Philipina. Sebagai akibat dari perjanjian Saragosa, maka Portugis semakin leluasa dan menunjukkan keserakahannya untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Tindakan sewenang-wenang Portugis menimbulkan kebencian di kalangan rakyat Ternate, bahkan bersama-sama rakyat Tidore dan rakyat di pulau-pulau lainnya bersatu untuk melawan Portugis. Perlawanan terhadap Portugis pertama kali dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate, sehingga perang berkobar dan benteng pertahanan Portugis dapat dikepung.Dalam keadaan terjepit tersebut, Portugis menawarkan perundingan. Akan tetapi perundingan tersebut merupakan siasat Portugis untuk membunuh Sultan Hairun tahun 1570. Dengan kematian Sultan Hairun, maka rakyat Maluku semakin membenci Portugis, dan kembali melakukan penyerangan terhadap Portugis yang dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1575. Perlawanan ini lebih hebat dari sebelumnya sehingga pasukan Sultan Baabullah dapat menguasai benteng Portugis. Keberhasilan Sultan Baabullah merebut benteng Sao Paolo mengakibatkan Portugis menyerah dan meninggalkan Maluku. Dengan demikian Sultan Baabullah dapat menguasai sepenuhnya Maluku dan pada masa pemerintahannya tahun 1570 – 1583 kerajaan Ternate mencapai kejayaannya karena daerah kekuasaannya meluas terbentang antara Sulawesi sampai Irian dan Mindanau sampai Bima, sehingga Sultan Baabullah mendapat julukan ‘Tuan dari 72 Pulau’.
Dengan berkembangnya Islam di Maluku maka banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai, sedangkan di daerah pedalaman masih banyak yang menganut Animisme dan Dinamisme. Dengan kehadiran Portugis di Maluku, menyebabkan agama Katholik juga tersebar di Maluku. Dengan demikian rakyat Maluku memiliki keanekaragaman agama. Perbedaan agama tersebut dimanfaatkan oleh Portugis untuk memancing pertentangan antara pemeluk agama. Dan apabila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan tersebut diperuncing oleh campur tangan orang-orang Portugis.
Dalam bidang kebudayaan yang merupakan peninggalan kerajaan Ternate dan Tidore terlihat dari seni bangunan berupa bangunan Masjid dan Istana Raja dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Red Pencil
Designed By