Sejak
dahulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah dan suka
bergaul dengan bangsa lain. Oleh karena itu, banyak bangsa lain yang
datang ke wilayah Nusantara untuk menjalin hubungan dagang. Ramainya
perdagangan di Nusantara yang melibatkan para pedagang dari berbagai
negara disebabkan melimpahnya hasil bumi dan letak Indonesia pada jalur
pelayaran dan perdagangan dunia. Pada sekitar abad ketujuh, Selat Malaka
telah dilalui oleh pedagang Islam dari India, Persia, dan Arab dalam
pelayarannya menuju negara-negara di Asia Tenggara dan Cina. Melalui
hubungan perdagangan tersebut, agama dan kebudayaan Islam masuk ke
wilayah Indonesia. Pada abad kesembilan, orang-orang Islam mulai
bergerak mendirikan perkampungan Islam di Kedah (Malaka), Aceh, dan
Palembang.
| Ilustrasi |
Waktu
kedatangan Islam di Indonesia masih ada perbedaan pendapat. Sebagian
ahli menyatakan bahwa agama Islam itu masuk ke Indonesia sejak abad ke-7
sampai dengan abad ke-8 Masehi. Pendapat itu didasarkan pada berita
dari Cina zaman Dinasti T’ang yang menyebutkan adanya orang-orang Ta
Shih (Arab dan Persia) yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Ho Ling
di bawah pemerintahan Ratu Sima (674).
Sebagian
ahli yang lain menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia baru abad
ke-13. Pernyataan ini didasarkan pada masa runtuhnya Dinasti Abbassiah
di Bagdad (1258). Hal itu juga didasarkan pada berita dari Marco Polo
(1292), berita dari Ibnu Batuttah (abad ke-14), dan Nisan Kubur Sultan
Malik al Saleh (1297) di Samudera Pasai. Pendapat itu diperkuat dengan
masa penyebaran ajaran tasawuf. Sebenarnya kita perlu memisahkan
pengertian proses masuk dengan berkembangnya agama Islam di Indonesia,
seperti berikut:
1. masa kedatangan Islam (kemungkinan sudah terjadi sejak abad ke-7 sampai
dengan abad ke-8 Masehi);
2. masa penyebaran Islam (mulai abad ke-13 sampai dengan abad ke-16
Masehi, Islam menyebar ke berbagai penjuru pulau di Nusantara);
3. masa perkembangan Islam (mulai abad ke-15 Masehi dan seterusnya melalui
kerajaan-kerajaan Islam).
Terdapat
berbagai pendapat pula mengenai negeri asal pembawa agama serta
kebudayaan Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kebudayaan dan
agama Islam datang dari Arab, Persia, dan India (Gujarat dan Benggala).
Akan tetapi, para ahli menitikberatkan bahwa golongan pembawa Islam ke
Indonesia berasal dari Gujarat (India Barat). Hal itu diperkuat dengan
bukti-bukti sejarah berupa nisan makam, tata kehidupan masyarakat, dan
budaya Islam di Indonesia yang banyak memiliki persamaan dengan Islam di
Gujarat.
Pembawanya
adalah para pedagang, mubalig, dan golongan ahli tasawuf. Ketika Islam
masuk melalui jalur perdagangan, pusat-pusat perdagangan dan pelayaran
di sepanjang pantai dikuasai oleh raja-raja daerah, para bangsawan, dan
penguasa lainnya, misalnya raja atau adipati Aceh, Johor, Jambi,
Surabaya, dan Gresik. Mereka berkuasa mengatur lalu lintas perdagangan
dan menentukan harga barang yang diperdagangkan. Mereka itu yang
mula-mula melakukan hubungan dagang dengan para pedagang muslim.
Lebih-lebih setelah suasana politik di pusat Kerajaan Majapahit
mengalami kekacauan, raja-raja daerah dan para adipati di pesisir ingin
melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Oleh karena itu, hubungan dan
kerja sama dengan pedagang-pedagang muslim makin erat. Dalam suasana
demikian, banyak raja daerah dan adipati pesisir yang masuk Islam. Hal
itu ditambah dengan dukungan dari pedagang-pedagang Islam sehingga mampu
melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Setelah
raja-raja daerah, adipati pesisir, para bangsawan, dan penguasa
pelabuhan masuk Islam rakyat di daerah itu pun masuk Islam, contohnya
Demak (abad ke-15), Ternate (abad ke-15), Gowa (abad ke-16), dan Banjar
(abad ke-16).
Proses
masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia
berlangsung secara bertahap dan dilakukan secara damai sehingga tidak
menimbulkan ketegangan sosial. Cara penyebaran agama dan kebudayaan
Islam di Indonesia melalui berbagai saluran berikut ini.
1. Saluran Perdagangan
Saluran
yang digunakan dalam proses islamisasi di Indonesia pada awalnya melalui
perdagangan. Hal itu sesuai dengan perkembangan lalu lintas pelayaran
dan perdagangan dunia yang ramai mulai abad ke-7 sampai dengan abad ke-
16, antara Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Cina.
Proses
islamisasi melalui saluran perdagangan ini dipercepat oleh situasi
politik beberapa kerajaan Hindu pada saat itu, yaitu adipati-adipati
pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat di
Majapahit. Pedagang-pedagang muslim itu banyak menetap di kota-kota
pelabuhan dan membentuk perkampungan muslim. Salah satu contohnya adalah
Pekojan.
2. Saluran Perkawinan
Kedudukan
ekonomi dan sosial para pedagang yang sudah menetap makin baik. Para
pedagang itu menjadi kaya dan terhormat, tetapi keluarganya tidak dibawa
serta. Para pedagang itu kemudian menikahi gadis-gadis setempat dengan
syarat mereka harus masuk Islam. Cara itu pun tidak mengalami kesulitan.
Saluran islamisasi lewat perkawinan ini lebih menguntungkan lagi
apabila para saudagar atau ulama Islam berhasil menikah dengan anak raja
atau adipati. Kalau raja atau adipati sudah masuk Islam, rakyatnya pun
akan mudah diajak masuk Islam.
Misalnya,
perkawinan Maulana Iskhak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan
Sunan Giri; perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ngampel) dengan Nyai Gede
Manila, putri Tumenggung Wilatikta; perkawinan putri Kawunganten dengan
Sunan Gunung Jati di Cirebon; perkawinan putri Adipati Tuban (R.A. Teja)
dengan Syekh Ngabdurahman (muslim Arab) yang melahirkan Syekh Jali
(Jaleluddin).
3. Saluran Tasawuf
Tasawuf
adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistik dan hal-hal
magis. Oleh karena itu, para ahli tasawuf biasanya mahir dalam soal-soal
magis dan mempunyai kekuatan menyembuhkan. Kedatangan ahli tasawuf ke
Indonesia diperkirakan sejak abad ke-13, yaitu masa perkembangan dan
penyebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India yang sudah beragama
Islam.
Bersamaan
dengan perkembangan tasawuf, para ulama dalam mengajarkan agama Islam di
Indonesia menyesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih
berorientasi pada agama Hindu dan Buddha sehingga mudah dimengerti.
Itulah sebabnya, orang Jawa begitu mudah menerima agama Islam.
Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal, antara lain Hamzah Fansyuri,
Syamsuddin as Sumatrani, Nur al Din al Raniri, Abdul al Rauf, Sunan
Bonang, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.
4. Saluran Pendidikan
Lembaga
pendidikan Islam yang paling tua adalah pesantren. Murid-muridnya
(santri) tinggal di dalam pondok atau asrama dalam jangka waktu tertentu
menurut tingkatan kelasnya. Pengajarnya adalah para guru agama (kiai
atau ulama). Para santri itu jika sudah tamat belajar, pulang ke daerah
asal dan mempunyai kewajiban mengajarkan kembali ilmunya kepada
masyarakat di sekitar. Dengan cara itu, Islam terus berkembang memasuki
daerah-daerah terpencil.
Pesantren
yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, antara lain
Pesantren Sunan Ampel di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat
(Sunan Ampel) dan Pesantren Sunan Giri yang santrinya banyak berasal
dari Maluku (daerah Hitu). Raja-raja dan keluarganya serta kaum
bangsawan biasanya mendatangkan kiai atau ulama untuk menjadi guru dan
penasihat agama. Misalnya, Kiai Ageng Selo adalah guru Jaka Tingkir;
Kiai Dukuh adalah guru Maulana Yusuf di Banten; Maulana Yusuf adalah
penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Saluran Seni Budaya
Berkembangnya
agama Islam dapat melalui seni budaya, misalnya seni bangunan (masjid),
seni pahat (ukir), seni tari, seni musik, dan seni sastra. Seni
bangunan masjid, mimbar, dan ukir-ukirannya masih menunjukkan seni
tradisional bermotifkan budaya Indonesia–Hindu, seperti yang terdapat
pada candi-candi Hindu atau Buddha. Hal itu dapat dijumpai di Masjid
Agung Demak, Masjid Sendang Duwur Tuban, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon,
Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ternate.
Pintu gerbang pada kerajaan Islam atau makam orang-orang yang dianggap
keramat menunjukkan bentuk candi bentar dan kori agung. Begitu pula,
nisan-nisan makam kuno di Demak, Kudus, Cirebon, Tuban, dan Madura
menunjukkan budaya sebelum Islam. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan
bahwa Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang telah ada,
tetapi justru ikut memeliharanya. Seni budaya yang tetap dipelihara
dalam rangka proses islamisasi itu banyak sekali, antara lain perayaan
Garebek Maulud (Sekaten) di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon.
Islamisasi
juga dilakukan melalui pertunjukkan wayang yang telah dipoles dengan
unsur-unsur Islam. Menurut cerita, Sunan Kalijaga juga pandai memainkan
wayang. Islamisasi melalui sastra ditempuh dengan cara menyadur
buku-buku tasawuf, hikayat, dan babad ke dalam bahasa pergaulan
(Melayu).
6. Saluran Dakwah
- Teori Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia
Proses
masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara
dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu:
-
Teori Gujarat,
-
Teori Makkah dan
-
Teori Persia.
Ketiga
teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya
Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama
Islam ke Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut,
silahkan Anda simak uraian materi berikut ini;
- Teori Gujarat
Teori
berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya
berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
Kurangnya
fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
Hubungan
dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay –
Timur Tengah – Eropa.
Adanya
batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak
khas Gujarat.
Pendukung
teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke.
Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat
timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini
juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak
sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India
yang menyebarkan ajaran Islam.
Teori
Makkah
Teori
ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu
teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada
abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
Pada
abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan
Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan
perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
Kerajaan
Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i
terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah
penganut mazhab Hanafi.
Raja-raja
Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari
Mesir.
Pendukung
teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang
mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan
yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
3.
Teori Persia
Teori
ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal
dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya
masyarakat Islam Indonesia seperti:
Peringatan
10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi
Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah / Islam Iran. Di Sumatra
Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di
pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
Kesamaan
ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al –
Hallaj.
Penggunaan
istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda bunyi
Harakat.
Ditemukannya
makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
Adanya
perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu
Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.
Ketiga
teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan
kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa
Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami
perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam
adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
2.
Beberapa Pendapat lain Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
A.
Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
Seminar
masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan
perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan
dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan
telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
Dari
Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum
Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang
muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
Dari
Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan
bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan alaya antara
tahun 606-699 M.
Prof.
Sayed Naguib Al -Attas (Malaysia) dalam Preliminary Statemate on General Theory
of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), mengungkapkan bahwa
kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
Prof.
Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia
mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah
masuk ke Malaya.
mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah
masuk ke Malaya.
Prof.
S. Muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay
berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
W.P.
Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya
Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya penduduk Arab muslim berkunjung ke
Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya penduduk Arab muslim berkunjung ke
Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
T.W.
Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The
Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
B.
Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
Satu-satunya
sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik,
yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat
prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).
C.
Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
Catatan
perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam
Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
K.F.H.
van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya
kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
J.P.
Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met
Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
Beberapa
sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan
Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa
kerajaaan islam di kawasan Indonesia.
Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa
kerajaaan islam di kawasan Indonesia.
3.
Pembawa Islam ke Indonesia
Sebelum
pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak
dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif,
akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan
China.
Melalui
perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa
Arab, Persia, India dan china punya nadil melancarkan perkembangan islam di
kawasan Indonesia.
Gujarat
(India)
Pedagang
islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
- ukiran batu nisan gaya Gujarat.
- ukiran batu nisan gaya Gujarat.
-
Adat istiadat dan budaya India islam.
Persia
Para
pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
- Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
- Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
-
Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
-
Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
4.
Arab
Para
pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti
antara lain:
Menurut
al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut,
Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra,
Jawa, dan Malaka.
Munculnya
nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak
mengenalkan islam.
5. China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho) mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain:
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho) mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain:
-
Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
-
Beberapa makam China muslim.
-Beberapa
wali yang dimungkinkan keturunan China.
-Dari
beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan
pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang
penuh toleransi (Umar kayam:1989)
Perdagangan
dan Perkawinan
Dengan
menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk
asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam
berkembang (masyarakat Islam).
Pembentukan
masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian
berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).
3. Kerajaan-kerajaan Islam pertama di Sumatera
4. kerajaan-kerajaan Islam di jawa
4.1 Kerajaan Demak
4.2 Kerajaan Pajang
5.1 Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan
3. Kerajaan-kerajaan Islam pertama di Sumatera
3.1 Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai yang merupakan
kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut
Aceh,kerajaan Samudra Pasai disebut sebagai kerajaan Islam pada awal
atau pertengahan abad ke-13 M yang didirikan oleh sultan Al-Malikush
Shalih (1261-1289 M). Kemunculan kerajaan Samudra Pasai ialah hasil dari
proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi
pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan seterusnya.
Bukti berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 M didukung
adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudra Pasai. Dari nisan
tersebut dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada
bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun
1297 M.
Pendiri
kerajan Samudra Pasai ialah sultan Al-Malikush Shalih,yang sekaligus
sebagai raja pertama. Hal ini dapat diketahui melalui tradisi Hikayat
Raja-raja Pasai, Hikayat melayu, dan juga hasil penelitian atas
beberapa sumber yang dilakukan sarjana-sarjana barat, khususnya para
sarjana Belanda, seperti Hurgronye, J.P Molquette, J.L moens, J.Hushoff,
G.P Rouffaer, H.K.J Cowan, dan lain-lain.
Dalam Hikayat Raja-raja Pasai
disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja ialah Maurah Selu
yang masih keturunan dari raja perlak. Ia masuk Islam berkat
pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah, yang
kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh. Maurah Selu adalah
putra Merah Gajah. Nama Maurah merupakan gelar bangsawan yang lazim di
Sumatera Utara. Selu kemungkinaan berasal dari kata Sungkala yang aslinya berasal dari Sanskrit Chula. Kepemimpiannya yang menonjol menempatkan dirinya sebagai raja.
Dari
hikayat tersebut dapat diketahui bahwa tempat pertama sebagai pusat
kerajaan Samudra Pasai adalah muara sungai peusangan, sebuah sungai yang
cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai. Ada dua kota yang
terletak berseberangan di muara sungai peusangan itu, Pasai dan Samudra.
Kota Samudra terletak agak lebih pedalaman, sedangkan kota Pasai
terletak lebih ke muara.
Pendapat
yang menyatakan bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad
ke-13, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, ia seorang
pengembara muslim yang terkenal asal Marokko, yang pada pertengahan abad
ke-14 M (746H/1345M) mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalannya dari
Delhi ke Cina. Ketika itu Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik
Al-Zahir pada tahun 1345 M, putra dari Sultan Malik Al-Saleh. Menurut
sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M, kerajaan kecil Sa-mu-ta-la
(Samudra) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan
nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman.
Ibn Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir satu abad lmanya
disiarkan disana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan
semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyatnya, mengikuti mazhab
syafi’i. Berdasarkan beritanya, kerjaan Samudra Pasai pada waktu itu
merupakan pusat studi agama dan tempat berkumpul ulama-ulama dari
berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan
keduniaan.
Mengenai
politik dan perekonomian di kerajaan Samudra Pasai. Dari segi politik
,munculnya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 M tu sejalan dengan
suramnya memegang peranan maritim kerajaan sriwijaya, yang sebelumnya
memegnag peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya.
Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai
basis agraris. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran.
Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran itu merupakan sendi-sendi
kekuasaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak
yang besar.
Adapun raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Samudra Pasai adalah sebagai berikut:
1. Sultan Malik Azh-Zhahir (1297-1326 M)
2. Sultan Mahmud Malik Azh-Zhahir (1326-1345 M)
3. Sultan Manshur Malik Azh-Zhahir (1345-1346 M)
4. Sultan Ahmad Malik Azh-Zhahir (1346-1383 M)
5. Sultan Zainal Abidin Malik Azh-Zhahir (1383-1405 M)
6. Sultan Nahrasiyah (1405 M)
7. Sultan Abu Zaid Malik Azh-Zhahir (1455 M)
8. Sultan Mahmud Malik Azh-Zhahir (1455-1477 M)
9. Sultan Zainal Abidin (1477-1500 M)
10. Sultan Abdullah Malik Azh-Zhahir (1500-1513 M)
11. Sultan Zainal Abidin (1513-1524 M)
Kerajaan
Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada tahun 1521 M,
kerajaan ini ditaklukan oleh portugis yang mendudukinya selama tiga
tahun, kemudian tahun 1524 M dianeksasi oleh raja Aceh, yaitu Ali
Mughayatsyah. Selanjutnya, kerajaan Samudra Pasai berada di bawah
pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.
3.2 Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan
Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten
Aceh Besar. Menurut pendapat Anas Machmud, kerajaan Aceh berdiri pada
abad ke-15 M, di atas puing-puing kerjaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah
(1465-1497 M). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam.
Menurutnya, pada masa pemerintahannya Aceh Darussalam mulai mengalami
kemajuan dalam bidang perdagangan, karena saudagar-saudagar Muslim
sebelumnya berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatan mereka ke
Aceh, setelah Malaka dikuasai portugis (1511 M). Sebagai akibat
penaklukkan Malaka oleh Portugis itu, jalan dagang yang sebelumnya dari
laut Jawa ke utara melalui selat Karimata terus ke Malaka, pindah
melalui selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatera, terus ke Aceh.
Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari
berbagai negeri.
Menurut H.J de Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi
bagian wilayah Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati
pertengahan abad ke-14 M.
Menurutnya, kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil,
yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat bahwa rajanya
yang pertama adalah Ali Mughayat Syah.
Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah pidie yang
bekerjasama dengan portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan
kemenangannya terhadap dua kerajaan tersebut , Aceh dengan mudah
melebarkan sayap kekuasaannya ke sumatera timur. Untuk mengatur daerah
bsumatera timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya,salah seorang
di antaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli
dan serdang.
Peletak
dasar kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang
bergelar Al-Qahar. Dalam menghadapi tentara portugis, ia menjalin
hubungan persahabatan dengan kerajaan usmani di Turki dan negara-negara
Islam yang lain di indonesia. Aceh dapat mendirikan angkatan perang yang
baik berkat bantuan dari Turki Usmani, Aceh ketika itu tampaknya
mengakui kerajaan Turki Usmani sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dan
kekhalifahan dalam Islam.
Kerajaan
Aceh Darussalam mencapai puncaknya pada masa Sultan Iskandar Muda
(1608-1637 M). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan pesisir
timur dan barat sumatera. Ia memerintah dengan keras dalam menentang
penjajahan portugis. Setelah itu, kedudukannya digantikan oleh Sultan
Iskandar Tsani yang memerintah lebih liberal. Pada masa Sultan Iskandar
Tsani perkembangan ilmu pengetahuan Islam mengalami masa keemasannya.
Akan tetapi, setelah ia meninggal, semua penguasaannya dari kalangan
perempuan (1641-1699 M), yaitu Sultanah Shafiyatuddin Syah,
Zakiyahtuddin Syah, dan Naqiyahtuddin Syah sehingga kekuasaan mengalami
kelemahan, yang ada pada akhirnya pada abad ke-18 kebesarannya menurun.
Pada masa kerajaan ini, perkembangan ilmu pengetahuan semakin maju. Pada masa ini muncul tokoh-tokoh ulama seperti:
1. Syaikh Abdullah Arif (dari Arab)
2. Hamzah Al-Fanshuri (Tokoh Tasawuf)
3. Syamsuddin As-Sumatrani (1630 M) , dan
4. Abdurrauf Singkel (1693 M).
4. kerajaan-kerajaan Islam di jawa
4.1 Kerajaan Demak
Kerajaan
Demak didirikan atas prakasa para walisongo. Di bawah pimpinan Sunan
Ampel Denta. Walisongo bersepakat mengangkat Raden Fatah sebagai raja
pertama kerajaan demak. Ia mendapat gelar Senopati Jinbun Ngabdurrahman
Panembahan Sayidin Panataagama. Raden Fatah dalam menjalankan
pemerintahannya, terutama dalam berbagai permasalahan agama dibantu oleh
para wali. Sebelumnya,Demakyang masih bernama Bintoronmerupakan daerah
vassal (kekuasaan) Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden
Fatah. Daerah ini semakin lama semakin berkembang menjadi daerah yang
ramai dan pusat perkembangan agana Islam yang diselenggarakan oleh para
wali.
Masa kekuasaan pemerintahan Raden Fatah berlangsung kira-kira akhir
abad ke-15 M hingga awal abad ke-16 M. Disebutkan bahwa Raden Fatah
adalah anak seorang Raja Majapahit dari seorang Ibu muslim keturunan
Campa. Raden Fatah merupakan raja pertama Demak yang sngat berjasa dalam
pengenmbangan agama Islam di daerah wilayah kekuasaannya. Ia digantikan
oleh anaknya yang bergelar Pati Unus (Adipati Yunus) yang terkenal
dengan sebutan pangeran Sabrang Lor. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru
berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507 M.
Menurutnya, tidak lama setelah naik tahta, ia merencanakan sesuatu
serangan terhadap Malaka. Semangat perangnya semakin memuncak ketika
Malaka ditaklukkan oleh portugis pada tahun 1511 M. Akan tetapi, sekitar
pergantian tahun 1512-1513 M, tentaranya mengalami kekalahan besar.
Sepeninggal Pati Unus, digantikan oleh Sultan Trenggono yang dilantik
oleh Sunan Gunungjati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Sultan
Trenggono memerintah tahun 1524-1546 M. Pada masa Sultan Demak ketiga
inilah Islam dikembangkan ke seluruh tanah jawa, bahkan sampai
kalimantan selatan. Penaklukkan sunda kelapa berakhir pada tahun 1527 M
yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan
Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan
Demak diperkirakan pada tahun 1527 M itu juga.
Selanjutnya, pada tahun 1527 M, Demak berhasil menundukkan Madiun,
Blora (1530 M), Surabaya (1531 M), Pasuruan (1535 M), dan antara tahun
1541-1542 M Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri (1544 M). Palembang
dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah jawa Tengah
bagian selatan sekitar Gunung Merapi ; Pengging, dan Pajang berhasil
dikuasai berkat pemuka Islam, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Tembayat.
Pada
tahun 1546 M, dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultan Trenggono
terbunuh. Ia digantikan oleh adiknya prawoto. Masa pemerintahannya
tidak langsung lama karena, terjadi pemberontakan oleh adipati-adipati
sekitar kerajaan Demak. Sunan Prawoto sendiri kemudian dibunuh oleh Aria
penangsang dari Jipang pada tahun 1549 M. Dengan demikian, kerajaan
Demak berakhir dan dilanjutkan oleh kerajaan Pajang di bawah Jaka
Tingkir yang berhasil membunuh Aria Penangsang.
Adapun para Sultan Kerajaan Demak adalah
1. Raden Fatah (Sultan Fatah) (1478-1518 M)
2. Adipati Yunus (1518-1521 M)
3. Sultan Trenggono (1521-1546 M)
4. Sunan Prawoto (1546-1546 M)
4.2 Kerajaan Pajang
Kerajaan
Islam Pajang merupakan kelanjutan dari kerajaan Islam Demak. Kerajaan
Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau jawa , usia kerajaan ini
tidak panjang. Kekuasaan dan kebesarannya kemudian diambil alih oleh
kerajaan mataram.
Raja
pertama kerajaan Pajang ialah Jaka Tinggir yang berasal dari pengging,
di lereng gunung merapi. Oleh raja Demak ketika, Sultan Trenggono, Jaka
Tingkir di angkat sebagai penguasa Pajang , setelah sebelumnya
dinikahkan dengan anak perempuannya. Kediaman penguasaa Pajang itu,
menurut babad, dibangun dengan mencontoh kraton Demak.
Pada
tahun 1546 M, Sultan Demak meninggal dunia. Setelah itu muncul kekacuan
di ibu kota. Konon, Jaka Tinggkir yang telah menjadi penguasa Pajang
tiu dengan segera mengambil alih kekuasaan,
karena anak sulung Sultan Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultan
, susuhunan Prawoto dibunuh oelh kemenakannya, Aria penangsang
yang waktu itu menjadi penguasa di Jipang (Bojonegoro sekarang).
Setelah itu, ia memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan
ke Pajang. Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di pulau jawa,
ia bergelar Sultan Adiwijaya. Pada masanya sejarah Islam di jawa mulai
dalam bentuk baru, titik politik pindah dari pesisir (Demak) ke
pedalaman. Peralihan pusat politik itu membawa akibat yang sangat besar
dalam perkembangan peradapan Islam di jawa.
Pada
masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya, ia berusaha memperluas wilayah
kekuasaannya ke pedalaman ke arah timur sampai ke madiun. Setelah itu ia
menaklukkan Blora pada tahun 1554 M, dan kediri pada tahun 1577 M. Pada
tahun 1587 M ia mendapat pengakuan dari para raja di jawa sebagai raja
Islam. Pada masa pemerintahannya kesusastraan dan kesenian keraton yang
sudah maju di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman jawa.
Demikian pula juga pengaruh Islam semakin kuat di pedalaman jawa
Sepeninggal
Sultan Hadiwijaya pada tahun 1587 M kedudukan nya digantikan oleh
menantunya, Aria Pangiri, anak susuhan Prawoto. Waktu itu, Aria Pangiri
menjadi penguasa di Demak. Setelah menetap di kraton Pajang, Aria
Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat yang dibawahnya dari Demak.
Sementara itu, anak Sultan Adiwijaya, Pangeran Benawa, dijadikan
penguasa Jipang. Pangeran muda ini, karena tidak puas dengan nasibnya di
tengah-tengah lingkunga yang masih asing baginya, meminta bantuan
kepada senopati, penguasa Mataram, untuk mengusir raja Pajang yang baru
itu. Pada tahun 1588 M, usahanya itu berhasil. Sebagai rasa terima
kasih, Pangeran Benawa menyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada
Senopati. Akan tetapi, Senopati menyatakan keinginnya untuk tetap
tinggal di Mataramia hanya meminta “pusaka kerajaan” Pajang. Mataram
ketika itu memang sedang dalam proses menjadi sebuah kerajaan yang
besar. Pangeran Benawa kemudian dikukuhkan sebagai raja Pajang, akan
tetapi berada di bawah perlindungan kerajaan Mataram. Sejak itu, Pajang
sepenuhnya menjadi berada di bawah kekuasaan Mataram.
Riwayat
kerajaan Pajang berakhir tahun 1618 M . kerajaan Pajang waktu itu
memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung.
Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.
4.3 Kerajaan Cirebon
4.3 Kerajaan Cirebon
Kerajaan Islam Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di daerah Jawa
Barat. Kerajaan ini didirikan oleg Sunan GunungJjati. Beliau lahir pada
tahun 1448 M dan wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Karena
kedudukannya sebagai Walisongo, ia mendapat penghormatan dari raja-raja
di Jawa seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai
sebuah kerajaan Islam yang merdeka dari kekuasaan Pajajaran, Sunan
Gunung Jati berusaha meruntuhkan Pajajaran yang masih belum menganut
ajaran Islam.
Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayat) mengembangkan Islam
ke daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali
(Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dasar dari pengembangan Islam dan
Perdagangan kaum Muslimin di Banten di letakkan oleh Sunan Gunung Jati
tahun 1524/1525 M. Ketika ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan
kepada anaknya, Sultan Hasanuddin. Beliaulah yang menurunkan raja-raja
Banten. Di tangan raja-raja Banten tersebut akhirnya kerajaan Pajajaran
dikalahkan.
Pada tahun 1527 M, dilakukan penyerangan ke Sunda Kelapa atas prakarsa
Sunan Gunung Jati. Penyerangan ini dipimpin oleh Falatehan dengan
bantuan tentara Demak. Setelah Gunung Jati wafat, kemudian ia diganti
oleh cicitnya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu/ Panembahan Ratu.
Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang
bergelar Panembahan Girilaya.
Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada Pangeran
Girilaya. Sepeninggalnya yaitu sesuai kehendaknya sendiri, Cirebon
diperintah oleh dua putranya, Marta wijaya ( Panembahan Sepuh) yang
memerintah Kesultanan Kesepuhan dengan gelar Syamsudin, dan Karta Wijaya
( Panembahan Anom) yang memerintah Kasultanan Kanoman dengan gelar
Badruddin.
4.4 Kerajaan Banten
Kerajaan Islam Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Setelah Sunan
Gunung Jati menaklukan Banten pada tahun 1525 M, ia kembali ke Cirebon,
dan kekuasaannya diserahkan kepada anaknya yaitu Sultan Hasanudin.
Beliau kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan
Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam
meluaskan wilayah Islam, yaitu ke Lampung dan daerah sekitarnya di
Sumatera Selatan, setelah sebelumnya tahun 1527 menaklukan Sunda Kelapa.
Pada tahun 1568, di saat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanudin
memerdekakan Banten. Oleh karena itu ia dianggap sebagai raja Islam yang
pertama di Banten. Banten sejak semula merupakan vassal dari Demak.
Hasanudin mangkat kira-kira tahun 1570 dan diganti oleh anaknya, Yusuf. Setelah
Sembilan tahun memegang tampuk kekuasaan, tahun 1579, Yusuf menaklukan
Pakuwan yang belum Islam yang waktu itu masih menguasai sebagian besar
daerah pedalaman Jawa Barat. Sesudah ibu kota kerajaan itu jatuh dan
raja beserta keluarganya menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk
Islam. Mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.
Setelah Pangeran Yusuf meninggal pada tahun 1580 M, ia digantikan oleh
putranya, yaitu Maualana Muhammad yang masih muda. Beliau bergelar
Kanjeng Ratu Banten. Selama itu kekuasaan dipegang oleh Qadhi (jaksa
agung) bersama empat pembesar istana lainnya. Maulana Muhammad meninggal
pada tahun 1596 M dalam usia 25 tahun. Setelah itu kedudukannya
digantikan oleh anaknya yang masih kecil bernama Abdul Mufakhir Mahmud
Abdul Qadir. Ia memerintah secara resmi pada tahun 1638 M.
Sepeninggal
Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir pada tahun 1651, kemudian ia
digantikan oleh cucunya Sultan Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng
Tirtayasa (1651-1659 M). Pada masa pemerintahannya ini terjadi beberapa
kali peperangan antara Banten dengan VOC karena beliau anti Belanda.
Sikap-nya yang anti Belanda itu mendapat dukungan dari seorang alim,
yaitu Syaikh Yusuf yang berasal dari Makasar. Peperangan itu baru
berakhir dengan perdamaian pada tahun 1659 M. Sikap anti Belanda ini
tidak disetujui oleh anaknya, yaitu Abdul Kahar yang bergelar Sultan
Haji yang lebih suka bekerja sama dengan Belanda.
5. Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku
5.1 Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan
Kesultanan
Banjar merupakan kesultanan Islam yang terletak di Kalimantan bagian
Selatan. Kesultanan ini pada awalnya bernama Daha, sebuah kerajaan Hindu
yang berubah menjadi kesultanan Islam. Kesultanan Banjar berdiri pada
tahun 1595 dengan penguasa pertama sultan Suriansyah.Islam masuk ke
wilayah ini pada tahun 1470, bersama dengan melemahnya Kerajaan
Majapahit di pulau Jawa.
Kerajaan
Banjar dipimpin oleh Pangeran Samudra berperang dengan kerajaan Daha.
Kemudian raja Samudra meminta bantuan ke Demak dengan janji jika menang
maka raja dan penduduknya akan masuk Islam. Maka berangkatlah tentar
Demak menyerbu kerajaan Daha. Dlam peperangan itu, Kerajaan Banjar yang
dibantu Demak menang. Sejak saat itu Pangeran Samudra masuk Islam, dan
kerajaan Banjar dinyatakan sebagai kerajaan Islam pada tahun 1550 M.
Penyebaran
Islam secara luas dilakukan Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang
ulama yang menjadi mufti besar Kalimantan. Kesultanan Banjar mengalami
kemunduran dengan terjadinya pergolakan masyarakat yang menentang
pengangkatan Pangeran Tamjidillah (1857 – 1859 M) sebagai sultan oleh
Belanda. Pada 1859 – 1905 M, terjadi perang Banjar yang dipimpin oleh
pangeran Antasari (1809 – 1862 M) melawan Belanda. Akibat perang ini
Belanda menghapuskan Kesultanan Banjar pada tahun 1860 M. peninggalan
sejarah kesultanan Banjar dapat dilihat dari bangunan masjid di Desa
Kuin Banjar Barat (Banjarmasin) yang dibangun pada masa pemerintahan
sultan Tamjidillah.
Para
Sultan yang memerintah kerajaan Banjar antara lain: Sultan Adam
(1825-1857 M), Pangeran Tamjidillah (1857 – 1859 M) yang memihak Beland,
Pangeran hidayat dan Pangeran Antasari yang berperang melawan Belanda
pada ahun 1862 – 1863 M.
5.2 Kerajaan Gowa – Tallo (MAKASSAR)
Penyebaran
Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Rebandang dari Sumatera,
sehingga pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan,
bahkan raja Makasar pun memeluk agama Islam. Raja Makasar yang pertama
memeluk agama Islam adalah Karaeng Matoaya (Raja Gowa) yang bergelar
Sultan Alaudin yang memerintah Makasar tahun 1593 – 1639 dan dibantu
oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) sebagai Mangkubumi bergelar Sultan
Abdullah. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Malekul Said (1639 – 1653).
Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa Pemerintahan
Sultan Hasannudin (1653 – 1669). Pada masa pemerintahannya Makasar
berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai
daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang
keperluan perdagangan Makasar. Perluasan daerah Makasar tersebut sampai
ke Nusa Tenggara Barat. Dengan adanya daerah kekuasaan Makasar yang luas
tersebut, maka seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat
dikuasainya.
Sultan
Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi
asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang
dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan
antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon
terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka
timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan
menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah
Maluku. Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin
sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku.
Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan
Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur.
Upaya
Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan
melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah
kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa
dijajah oleh Makasar meminta bantuan kepada VOC untuk melepaskan diri
dari kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan
VOC untuk menghancurkan Makasar. Akibat persekutuan tersebut akhirnya
Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa
kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai
perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikankerajaan Makasar.
Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
Walaupun
perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda
tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra
Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda. Untuk menghadapi
perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannyasecara
besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan
Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.
Seperti
yang telah Anda ketahui bahwa kerajaan Makasar merupakan kerajaan
Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian
Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak yang
strategis, memiliki pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak
pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur. Sebagai pusat
perdagangan Makasar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan
banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Portugis,
Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makasar.
Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang
disebut dengan ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, sehingga
dengan adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi
teratur dan mengalami perkembangan yang pesat. Selain perdagangan,
Makasar juga mengembangkan kegiatan pertanian karena Makasar juga
menguasai daerah-daerah yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.
Sebagai
negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan
dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf
kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk
menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun masyarakat Makasar memiliki
kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi
dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka
anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan
adat dan agama Islam yang disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut.
Di
samping norma tersebut, masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan
sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan
dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.
Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan
benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka
terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang
Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.
5.3 Kerajaan Ternate – Tidore (MALUKU)
Kerajaan
Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah
kepualuan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah
pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta
keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh
hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah
seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan komoditi
perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada
abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka
masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan
dari hasil hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru,
Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak
pedagang-pedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah
pedagang Islam dari Jawa Timur.
Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agama Islam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain
melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para
Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal yaitu
Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di
maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku.
Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat
Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam,
sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra
mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di
Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan
demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari
sekian banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore
merupakan dua kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.
Kepulauan Maluku terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Rempah-rempah tersebut menjadi komoditi utama dalam dunia pelayaran dan perdagangan
pada abad 15 – 17. Demi kepentingan penguasaan perdagangan
rempah-rempah tersebut, maka mendorong terbentuknya persekutuan
daerah-daerah di Maluku Utara yang disebut dengan Ulilima dan Ulisiwa.
Ulilima berarti persekutuan lima bersaudara yang dipimpin oleh Ternate
yang terdiri dari Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon. Sedangkan
Ulisiwa adalah persekutuan Sembilan bersaudara yang terdiri dari Tidore,
Makayan, Jailolo dan pulau-pulau yang terletak di kepulauan Halmahera
sampai Irian Barat. Antara persekutuan Ulilima dan Ulisiwa tersebut
terjadi persaingan. Persaingan tersebut semakin nyata setelah datangnya
bangsa Barat ke Kepulauan Maluku. Bangsa barat yang pertama kali datang
adalah Portugis yang akhirnya bersekutu dengan Ternate tahun 1512.
Karena persekutuan tersebut maka Portugis diperbolehkan mendirikan
benteng di Ternate. Bangsa Barat selanjutnya yang datang ke Maluku
adalah bangsa Spanyol, sedangkan Spanyol sendiri bermusuhan dengan
Portugis. Karena itu kehadiran Spanyol di Maluku, maka ia bersekutu
dengwn Tidore.
Akibat
persekutuan tersebut maka persaingan antara Ternate dengan Tidore
semakin tajam, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan antara keduanya
yang melibatkan Spanyol dan Portugis. Dalam peperangan tersebut Tidore
dapat dikalahkan oleh Ternate yang dibantu oleh Portugis. Keterlibatan
Spanyol dan Portugis pada perang antara Ternate dan Tidore, pada
dasarnya bermula dari persaingan untuk mencari pusat rempah-rempah dunia
sejak awal penjelajahan Samudra, sehingga sebagai akibatnya Paus turun
tangan untuk membantu menyelesaikan pertikaian tersebut. Usaha yang
dilakukan Paus untuk menyelesaikan pertikaian antara Spanyol dan
Portugis adalah dengan mengeluarkan dekrit yang berjudul Inter caetera Devinae,
yang berarti Keputusan Illahi. Dekrit tersebut ditandatangani pertama
kali tahun 1494 di Thordessilas atau lebih dikenal dengan Perjanjian Thordessilas.
Dan selanjutnya setelah adanya persoalan di Maluku maka kembali Paus
mengeluarkan dekrit yang kedua yang ditandatangani oleh Portugis dan
Spanyol di Saragosa tahun 1528 atau disebut dengan Perjanjian Saragosa.
Perjanjian
Thordessilas merupakan suatu dekrit yang menetapkan pada peta sebuah
garis perbatasan dunia yang disebut Garis Thordessilas yang membentang
dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verdi di sebelah
Barat benua Afrika. Wilayah di sebelah Barat Garis Thordessilas
ditetapkan sebagai wilayah Spanyol dan di sebelah Timur sebagai wilayah
Portugis.Sedangkan Perjanjian Saragosa juga menetapkan sebuah garis baru
sebagai garis batas antara kekuasaan Spanyol dengan kekuasaan Portugis
yang disebut dengan Garis Saragosa. Di mana garis tersebut membagi dunia
menjadi 2 bagian yaitu Utara dan Selatan. Bagian Utara garis Saragosa
merupakan kekuasaan Spanyol dan bagian Selatannya adalah wilayah
kekuasaan Portugis. Dengan adanya perjanjian Saragosa tersebut, maka
sebagai hasilnya Portugis tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol
harus meninggalkan Maluku dan memusatkan perhatiannya di Philipina.
Sebagai akibat dari perjanjian Saragosa, maka Portugis semakin leluasa
dan menunjukkan keserakahannya untuk menguasai dan memonopoli
perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Tindakan
sewenang-wenang Portugis menimbulkan kebencian di kalangan rakyat
Ternate, bahkan bersama-sama rakyat Tidore dan rakyat di pulau-pulau
lainnya bersatu untuk melawan Portugis. Perlawanan terhadap Portugis
pertama kali dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate, sehingga perang
berkobar dan benteng pertahanan Portugis dapat dikepung.Dalam keadaan
terjepit tersebut, Portugis menawarkan perundingan. Akan tetapi
perundingan tersebut merupakan siasat Portugis untuk membunuh Sultan
Hairun tahun 1570. Dengan kematian Sultan Hairun, maka rakyat Maluku
semakin membenci Portugis, dan kembali melakukan penyerangan terhadap
Portugis yang dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1575. Perlawanan
ini lebih hebat dari sebelumnya sehingga pasukan Sultan Baabullah dapat
menguasai benteng Portugis. Keberhasilan Sultan Baabullah merebut
benteng Sao Paolo mengakibatkan Portugis menyerah dan meninggalkan
Maluku. Dengan demikian Sultan Baabullah dapat menguasai sepenuhnya
Maluku dan pada masa pemerintahannya tahun 1570 – 1583 kerajaan Ternate
mencapai kejayaannya karena daerah kekuasaannya meluas terbentang antara
Sulawesi sampai Irian dan Mindanau sampai Bima, sehingga Sultan
Baabullah mendapat julukan ‘Tuan dari 72 Pulau’.
Dengan berkembangnya Islam di Maluku maka banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai, sedangkan di daerah pedalaman masih banyak yang menganut Animisme dan Dinamisme. Dengan kehadiran Portugis di Maluku, menyebabkan agama Katholik juga tersebar di Maluku. Dengan demikian rakyat Maluku memiliki keanekaragaman agama. Perbedaan agama tersebut dimanfaatkan oleh Portugis untuk memancing pertentangan antara pemeluk agama. Dan apabila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan tersebut diperuncing oleh campur tangan orang-orang Portugis.
Dalam bidang kebudayaan yang merupakan peninggalan kerajaan Ternate dan Tidore terlihat dari seni bangunan berupa bangunan Masjid dan Istana Raja dan lain-lain.
Dengan berkembangnya Islam di Maluku maka banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai, sedangkan di daerah pedalaman masih banyak yang menganut Animisme dan Dinamisme. Dengan kehadiran Portugis di Maluku, menyebabkan agama Katholik juga tersebar di Maluku. Dengan demikian rakyat Maluku memiliki keanekaragaman agama. Perbedaan agama tersebut dimanfaatkan oleh Portugis untuk memancing pertentangan antara pemeluk agama. Dan apabila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan tersebut diperuncing oleh campur tangan orang-orang Portugis.
Dalam bidang kebudayaan yang merupakan peninggalan kerajaan Ternate dan Tidore terlihat dari seni bangunan berupa bangunan Masjid dan Istana Raja dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar